Tampilkan postingan dengan label Mesin-Mesin DC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesin-Mesin DC. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Agustus 2010

2.2 Reaksi Jangkar

Fluks yang menembus konduktor jangkar pada keadaan generator takberbeban dapat dilihat pada gambar 25 (a). Fluks ini merupakan fkluks utama. Jika generator dibebani timbullah arus jangkar. Adanya arus jangkar ini menyebabkan timbulnya fluks pada konduktor tersebut.Dengan menganggap tidak ada arus medan yang mengalir dalam kumparan medan, fluks ini digambarkan seperti pada gambar (b).
            Interaksi kedua fluks tersebut sperti terlihat pada gambar 25 (c).

Karena operasi suatu generator arus searah selalu berada pada daerah jenuh, pengurangan  fluks di suatu konduktor dibandingkan dengan pertambahan fluks pada konduktor lain lebih besar.Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Misalkan fluks sebesar Ox adalah fluks yang dihasilkan tanpa dipengaruhi oleh reaksi jangkar. Dengan adanya pengaruh reaksi jangkar pertambahan dan pengurangan kuat medan magnet (ggm) yang terjadi pada konduktor jangkar ac dan bd masing-masing
sebesar B ampereturn. Dengan demikian dapat terlihat pertambahan fluks pada konduktor bd hanyalah sebesar xy, sedang berkurangnya fluks pada
konduktor jangkar ac sebesar xz yang harga xz jauh lebih besar dibanding harga xy. Oleh karena itu fluks keseluruhan yang dihasilkan oleh konduktor jangkar akibat adanya reaksi jangkar akan selalu berkurang harganya. Berkurangnya fluks ini dinamakan pendemagnetan.
 

Read More..

Rabu, 11 November 2009

2.1.7 GENERATOR DC MAJEMUK DIFFERENSIAL

Secara konstruksi seperti generator DC majemuk kumulatif yaitu bisa dari compound short shunt maupun long shunt hanya saja prinsip penguatan medan yang ditimbulkan terhadap mesin adalah saling melemahkan (substraction). Sehingga medan efektif penguatan mesin adalah hasil pengurangan antara keduanya .Jika medan shunt sebagai utamanya ,maka medan efektif ditimbulkan oleh :

Fnet = Fsh-Fse-Far

         = Nflf – Nsela – Far

Arus medan shunt efektif adalah.

                        If * = If – (Nse/Nf)Ia – Far/Nf

Karakteriksik terminal generator DC majemuk diferensial dapat diturunkan bila beban bertambah sehingga ia bertambah, maka akan terjadi efek :

Ø      Ia bertambah – Ia (Ra+Rs) bertambah – sehingga kecendrungannya Vt menurun.

Ø      Ia bertambah – mmf medan seri bertambah (Nsela naik) – mmf mesin turun sehingga fluks menurun – Vt juga menurun.

Karakteristik tersebut digambarkan seperti kurva berikut dengan perbandingan generator DC shunt.

 





Pengaturan tegangan generator DC majemuk diferensial  adalah dengan mengatur kecepatan putar ω dan arus medan.



Read More..

Rabu, 02 September 2009

2.1.6 GENERATOR DC MAJEMUK KUMULATIF

Generator jenis ini mempunyai penguatan ganda yaitu penguatan seri dan shunt serta efek medan keduanya terhadap jangkar saling memperkuat (cumulative).
Sehingga total magnetomotive force keduanya adalah,
Fnet = Fsh+Fse-Far
Dimana :

Fne = mmf efektif ke mesin
Fsh = mmf medan shunt
Fse = mmf medan ser
Far = mmf akibat reaksi jangkar (armature reaction)
Arus medan shunt efektif mesin adalah,
If * = If + (Nse/Nsh)Ia – Far/Nsh
Dari segi konstruksinya generator DC majemuk kumulatif dapat diperoleh dari generator DC majemuk sambungan ‘Short Shunt’ (shunt pendek) dan generator DC majemuk ‘Long Shunt’ (shunt panjang) dengan rangkaian ekivalen seperti berikut :
Kakteristik terminal generator DC majemuk kumulatif dapat diturunkan dan dianalisa. Jika beban bertambah sehingga arus beban bertambah (IL bertambah),maka:
 Ia (Ra + Rs) bertambah ,sehingga drop tegangan bertambah
 Ia bertambah .maka mmf medan seri bertambah (Fe =Nse Ia ) sehingga fluks mesin bertambah , maka Ea bertambah pula .
Dari fenomena kedua hal di atas maka yang berpengaruh terhadap tegangan terminal oleh adanya jumlah medan seri.
* Jika Nse sedikit ,maka drop tegangan lebih dominan terhadap pertambahan tegangan sehingga tetap terjadi penurunan tegangan terminal oleh pembebanan Kondisi ini disebut undercompound .
* Jika Nse lebih banyak , maka dengan bertambahnya beban II,mula-mula tegangan terminal bertambah ,jika beban beban bertambah terus maka tegangan terminal akan mulai menurun sehingga Vnl =Vfl dan disebut flat compound.
* Jika Nse banyak ,maka dengan bertambahnya beban tegangan terminal masih naik sampai beban penuh Vfl > Vnl dan kondisi ini disebut overcompound .

Karakteristik tersebut digambarkan seperti berikut dengan perbandingan generator DC shunt:

 Karakteristik di atas dapat juga dibuat dengan menambahkan resistor diverter yang disambung secara paralel terhadap kumparan medan seri dimana resistor tersebut dapat diatur besar resistansinya .Gambar rangkainya seperti berikut :


Prinsip pengaturan tegangan terminal pada generator Dc majemuk adalah dengan mengatur kecepatan putarnya (ω) dan mengatur arus medan (II)




Read More..

Selasa, 18 Agustus 2009

2.1.5 GENERATOR DC MAJEMUK PANJANG

Sebagaimana halnya dengan generator DC majemuk pendek, generator DC majemuk panjang juga mempunyai penguat seri dan shunt hanya yang membedakan adalah cara penyambungannya. 

Karena sambungan belitan penguat seri dan shunt-nya berbeda maka rumus yang berlaku pun bebeda pula.


Read More..

Minggu, 02 Agustus 2009

2.1.4 GENERATOR DC MAJEMUK PENDEK


Gambar 18. Rangkaian eqivalen generator DC majemuk pendek (short shunt)

Generator shunt majemuk pendek atau sering disebut juga ‘short shunt merupakan gabungan antara generator DC seri dengan generator DC shunt. Yang membedakan antara majemuk pendek dan majemuk panjang adalah cara penyambungan penguat shunt terhadap rangkaian. Berikut ini adalah rangkaian eqivalen generator DC majemuk pendek serta rumus-rumus yang berlaku. 

Read More..

Minggu, 26 Juli 2009

2.1.3 Generator DC Seri

Disebut generator DC seri karena rangkaian exitasi (penguat) disambung secara seri dengan jangkarnya. Sehingga arus medan (Is) sama dengan arus jangkar (Ia) sama dengan arus beban (IL).

Kurva magnetisasi generator seri seperti generator yang lain (berpenguat sendiri) pada kondisi tanpa beban.
Pada kondisi berbeban arus medan bertambah sehingga Ea bertambah dengan cepat. Akan tetapi drop tegangan Ia.(Ra+Rs) juga bertambah dengan cepat sehingga terjadi penurunan tegangan yang cepat pula.
Pada mulanya pertambahan Ea lebih cepat akan tetapi kondisinya cepat jenuh sehingga Ea hampir konstan meskipun beban masih bertambah.Akhirnya pada kondisi sudah jenuh Ea sudah tidak dapat bertambah, sementara arus beban (IL) masih terus bertambah , maka terjadilah penurunan tegangan terminal dengan tajam .

Dengan karakterisik yang khas, maka pemakaian generator DC seri hanyalah untuk mesin las dengan semakin memperbesar reaksi jangkar.

Read More..

Jumat, 12 Juni 2009

2.1.2 Generator DC Shunt


Pada generator shunt , arus medandisuplai dari tegangan jangkar mesin. Arus jangkar Ia yang dihasilkan adalah, Ia = If + Il



Gambar 14. Rangkaian eqivalen generator shunt

Oleh karena generator shunt ini termasuk generator berpenguat sendiri yang artinya bahwa arus medan disuplai dari jangkar mesin itu sendiri maka harus ada tegangan awal pada generator tersebut sebelum diputar oleh prime mover (penggerak mula). Tegangan awal ini dihasilkan akibat adanya fluks sisa (residual flux) didalam kutub generator. Sehingga tegangan awalnya sebesar :

Ea = K. Фres. ω volt ; dimana Фres = fluks residu

Tegangan kecil yang dibangkitkan tersebut akan menghasilkan arus kecil di kumparan jangkar. Arus ini akan menghasilkan magnetomotive force kutub (mmf).yang akan terus bertambah seiring dengan berputarnya generator sehingga tegangan terminal mencapai nominalnya.

            Gambar 15. Terbangkitnya tegangan pada generator shunt

Garis lengkung pada gambar 15 menggambarkan kurva pemagnetan untuk generator penguat sendiri, sedangkan garis lurus menyatakan persamaan tegangan kumparan medan (Ish.Rsh). 0a adalah fluks residu dan menimbulkan pada kumparan medan sebesar 0b. Dengan adanya arus kumparan ini tegangan induksi membesar menjadi 0c (akibat bertambahnya fluks). Selanjutnya tegangan 0c memperkuat arus medan menjadi sebesar 0d. Demikian proses ini berlangsung sampai generator mencapai tegangan stabil dititik X.

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gagalnya pembangkitan tegangan generator shunt dikarenakan :

Ø Tidak adanya fluks residu

Ø Arah putaran generator terbalik

Ø Pengaturan tahanan medan pada nilai yang lebih besar dari resistor kritisnya.

Karakteristik tegangan terminal dan pengaturan tegangan generator DC Shunt sama dengan generator exitasi terpisah.

Read More..

Rabu, 06 Mei 2009

Bab II GENERATOR DC

2.1 Jenis – jenis Generator DC
Generator arus searah (DC) adalah mesin yang mampu membangkitkan tegangan dan arus searah (DC) dimana inputnya adalah energi mekanis dari putaran penggerak mula (prime mover).
Proses konversi didalam mesinnya sendiri sebenarnya tegangan dan arus bolak-balik (lihat gambar 10), akan tetapi sebelum ditransmisikan ke output harus melewati sistim penyearahan (komutasi) yang merubah menjadi tegangan dan arus yang searah.
Berdasarkan penguatan medannya maka generator DC terbagi menjadi :
1. Generator Penguat Terpisah (separately exited generator)
2. Generator Penguat Shunt (shunt exited generator)
3. Generator Penguat Seri (series exited generator)
4. Generator Penguat Majemuk Pendek (Short Compound exited generator)
5. Generator Penguat Majemuk Panjang (Long Compound exited generator)

Generator kompon sering juga dibagi :
1. Generator Majemuk Komulatif (Cumulatiely Compound Generator)
2. Generator Majemuk Differensial (Differently Compound Generator)

2.1.1 Generator Penguat Terpisah
Generator ini mempunyai arus medan penguatan (exitasi) yang di suplai secara terpisah dari sumber tegangan DC luar.Adapun rangkaian ekivalennya seperti gambar disamping.





Karakteristik tegangan terminal generator DC exitasi terpisah dapat digambarkan terhadap arus beban Il pada kecepatan ω konstan sebagai
berikut:

Jika beban bertambah maka arus beban juga bertambah sehingga drop tegangan akibat Ia.Ra juga bertambah maka kurva akan menurun secara proporsional.
Jika generator tidak dilengkapi dengan kumparan kompensasi maka drop tegangan semakin besar oleh karena adanya reaksi jangkar.
Tegangan terminal generator exitasi terpisah atas dasar rumus Ea = K. Ф. ω dapat diubah-ubah dengan mengatur :
Ø Kecepatan putar penggerak (ω)
Ø Arus medan If (Ф)


Read More..

Jumat, 24 April 2009

1.6 Rumus – rumus Dasar Mesin DC

Berdasarkan teori elektromagnetik dapat diturunkan rumus-rumus dasar untuk mesin arus searah dari gambar 11 dibawah ini:
a. Tegangan Induksi


> Sisi coil (terdiri satu konduktor) yang melintang terhadap garis gaya magnet terbangkitkan tegangan induksi sebesar :

eind = B.v.l volt (tiap loop)
Dimana :
B : Rapat fluks magnet (Wb/m²)
v : Kecepatan relative konduktor terhadap medan magnet (m/sec)
l : Panjang konduktor (m)


Jika coil terdiri Z konduktor dengan jumlah pencabangan a (current path) maka tegangan yang dibangkitkan pada belitan jangkar :

ea = ( Z.B.l )/a volt

v= r.ω ; Ap = (2.π.r.l )/P ; Ф = Ap.B --> B = Ф.P/(2.π.r.l)

Dimana :

a : jumlah pencabangan jangkar
r : Jari-jari coil / kumparan
ω: Kecepatan sudut (rad/sec)
P : Jumlah Kutub

Sehingga :

Ea = (Z.Ф.ω.P)/2.π.a volt ; ω=(2.π.n)/60

Akhirnya:

Ea =(Z.Ф.n.P)/a.60 atau Ea = K.Ф.n volt

> Dari hukum Faraday yang mengatakan bahwa jika konduktor yang terletak diantara garis gaya magnet dan digerakkan secara searah (diputar) sehingga memotong garis gaya magnet tersebut maka padanya akan terbangkitkan tegangan induksi sebesar :

Ea =Ф/ t.10^8 volt dimana t adalah lamanyan konduktor memotong flux (weber).

> Dapat disimpulkan bahwa tegangan induksi yang dibangkitkan pada mesin tergantung pada :
a. Fluks (Ф)
b. Kecepatan (n)
c. Konstanta konstruksi mesin (Z.P/a.60)


b. Kecepatan
Jika (Z.P/a.60) dari rumus tegangan induksi diatas dianggap sebagai suatu konstanta C maka kecepatan dapat dihitung dari rumus diatas:

n = Ea / C.Ф

Dari rumus tersebut dapat dilihat bahwa putaran mesin DC dapat diatur dengan merubah besarnya Ea atau Ф (motor).

c. Kopel Elektromagnetik

T = Ea.Ia /ωm Nm atau T=K.Ф.Ia Nm

Dimana T adalah torsi ; ωm adalah kec.sudut =(2.π.n)/60
Jadi untuk mengatur besarnya torsi pada mesin DC dapat dilakukan
dengan mengubah besarnya nilai Fluks (melalui arus medan) maupun
melalui arus jangkar.
Kopel elektromagnetik ini tidak sama dengan kopel yang terdapat pada sumbu. Dengan mengurangi kopel geser barulah didapat harga kopel pada sumbu



Read More..

Kamis, 16 April 2009

1.5 Prinsip Pembangkitan Tegangan Induksi

Proses terbangkitkannya tegangan induksi pada generator searah sebelum melewati komutator dapat dijelaskan dari gambar berikut ini:

- Pada t1 konduktor tidak memotong garis gaya magnet sehingga gaya gerak listrik yang dihasilkan 0 (nol)
- Pada t2 konduktor memotong garis gaya magnet sehingga gaya gerak listrik yang dihasilkan maximum
- Pada t3 konduktor tidak memotong garis gaya magnet sehingga gaya gerak listrik yang dihasilkan 0 (nol)
- Pada t4 konduktor memotong garis gaya magnet sehingga gaya gerak listrik yang dihasilkan maximum
- Pada t3 konduktor tidak memotong garis gaya magnet sehingga gaya gerak listrik yang dihasilkan 0 (nol)

Dari tahap pergerakan konduktor memotong garis gaya magnet kutub generator diatas dapat digambarkan gelombang tegangan induksi yang dibangkitkan oleh generator mulai dari nol.

Read More..

Minggu, 12 April 2009

1.4 Belitan Mesin Arus Searah

Pada mesin DC loop pada rotor disebut jangkar, dihubungkan ke segmen komutator. Perbedaan sambungan akan menentukan jumlah parallel “current path”(jalur arus), tegangan terminal dan jumlah & posisi sikat pada segmen komutator
Kumparan pada mesin listrik biasanya terdiri dari beberapa lilitan. Kumparan yang dihubungkan satu sama lain membentuk belitan. Jumlah konduktor Z pada jangkar :
Z = 2.C.Nc
Dimana :

C = Jumlah coil/kumparan
Nc = Jumlah loop/turn pada coil
Jarak antara salah satu ujung kumparan dengan ujung kumparan lainnya sebesar 180° listrik yang berarti salah satu sisi kumparan berada dimuka kutub Utara sedang sisi yang lain dimuka kutub Selatan. Konstruksi kumparan ini disebut “full pitch coil”.
Jika jarak coil lebih kecil dari 180° listrik disebut “fractional pitch coil” dan ini yang banyak digunakan untuk meniadakan ripple gelombang arus-tegangan.
Kebanyakan kumparan terdiri dari 2 lapis (2 layer) untuk meningkatakan tegangan terminal. Lapisan pada kumparan dikenal dengan “plex” kumparan, misalnya 1 (simplex), 2 (duplex), 3 (triplex) dan banyak (multiplex).
Sambungan kumparan jangkar terhadap segmen komutator dikenal “progressive” (sambungan maju) dan “retrogressive” (sambungan mundur).
Adapaun jenis dari belitan pada mesin DC adalah :




a. Sambungan Gelung (Lap Winding)
Bila progressive maka “pitch komutator”(langkah komutator) Yc = 1, sedang jika retrogressive maka Yc = -1.
Pada lap winding ujung kumparan yang satu terhadap ujung yang lain menempati segmen komutasi yang berdekatan.
Lap winding biasanya terdapat masalah arus putar kumparan (circulating current), sehingga perlu diantisipasi dengan equalizing.
Secara umum Yc = ± m ; m = plex lapJumlah current path a = m . P dimana P = jumlah kutub.


b. Belitan Gelombang (Wave winding)
Pada suatu kumparan maka ujung yang satu terhadap yang lain menempati jarak yang cukup jauh yaitu 180° listrik. Umumnya jenis simplex. (m = 1)
Comutator pitch :
Yc = [ 2 (C + 1)/P ] ; dimana C = jumlah coil rotor


c. Belitan Kaki Katak (Frog Leg Winding)
Disebut juga self equalizing winding yang merupakan gabungan antara lap dan wave winding. Current path: a = 2P.m. ; m = plex untuk lap winding.

Read More..

Senin, 06 April 2009

1.3 Komutasi

Mesin listrik disebut mesin DC (arus searah) karena mempunyai sistem komutasi pada cara kerjanya dimana fungsi dari komutator ini adalah menyearahkan arus-tegangan dari AC menjadi DC secara mekanis pada terminalnya untuk generator DC. Sedangkan pada motorDC untuk menjalankannya memerlukan catu daya DC yang dikonversike ACpada kumparan jangkarnya.Komutasi tersebut dilakukan oleh salah satu komponen mesin DC yang disebut komutator. Adapun prinsip kerja dari komutator dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dari gambar 3 ditunjukkan saat-saat komutator
bergerak dari posisi di t0 sampai pada posisi t5. Pada saat t = t0 , segmen komutator tepat berimpit dengan carbon brush (sikat arang). Jika ada dua jalan parallel dalam kumparan jangkar tersebut maka arus jangkar Ia yang mengalir pada masing-masing jalan parallel adalah Ia/2 dengan arah seperti yang ditunjukkan pada gambar. Dengan demikian arus yang mengalir pada kumparan A = Ia/2 dan arahnya ke kanan. Jika arah putaran jangkar ke kanan seperti pada ganbar 3 dan pada saat t = t1 , sikat terletak diantara dua komutator dengan perbandingan 1 : 3 maka distribusi arus pada masing-masing segmen komutator adalah Ia/4 pada komutator sebelah kiri , dan 3Ia/4 pada komutator sebelah kanan. Dari hukum Kirchoff untuk arus, kita dapatkan besar arus yang megalir pada kumparan A = Ia/4 dengan arah masih tetap ke kanan.
Pada t = t2 posisi sikat tepat berada ditengah-tengah diantara dua segmen komutator, sehingga tidak ada arus yang mengalir pada kumparan A (pada kondisi ini kumparan A sama dengan berada di bidang netral). Pada t = t3 sikat berada antara dua segmen komutator dengan perbandingan letak 1 : 3. Disini arus yang mengalir pada kumparan A = Ia/4, dengan arah arus terbalik yaitu ke kiri. Akhirnya pada t = t4 sikat meninggalkan segmen komutator sebelah kiri. Pada kumparan A mengalir arus sebesar Ia/2 yang arahnya ke kiri. Jika arus dalam kumparan A digambarkan sebagai fungsiwaktu diperoleh hasil seperti terlihat pada gambar 4. Fungsi tersebut merupakan fungsi linier komutasi yang dihasilkan jika rapat arus dalam sikat seragam. Tapi karena adanya pengaruh induktans kumparan dan tahanan sikat untuk arus yang cukup besar maka fiungsi tersebut tidak linier lagi melainkan berupa garis lengkung.


Demikianlah dengan adanya arus yang berbalik arah dalam kumparan jangkar yang berputar dalam medan magnet dihasilkan tegangan induksi (ggl) dengan bentuk gelombang seperti pada gambar 5.






Read More..

Minggu, 29 Maret 2009

1.2 Konstruksi Mesin DC

Mesin arus searah baik generator maupun motor secara umum mempunyai konstruksi yang terdiri dari bagian yang diam (stator) dan bagian yang berputar (rotor).
A. Stator (bagian yang diam)
1. Gandar (body)
2. Kutub Utama (main pole)
a. Inti Kutub
Inti Kutub biasanya terdiri dari laminasi besi dan mempunyai permeabilitas yang tinggi. Bentuknya biasanya datar atau menonjol (salient).

b. Sepatu Kutub
Sepatu kutub berfungsi memperlebar fluks magnet sehingga meliputi daerah yang luas di celah udara dan permukaan inti jangkar.
3. Kutub Antara (Kutub Komutasi)
Berfungsi membangkitkan fluks magnet didaerah jangkar diantara medan utama agar medan utama tidak terdistorsi. Distorsi medan utama menyebabkan ripple gelombang yang berakibat loncatan api di sikat arang.
Bentuk Kutub Antara ini lebih kecil dibandingkan kutub utama. Jumlah kutubnya bisa sama atau setengah dari kutub utama.
4. Kumparan Penguat
a. Kumparan Shunt
Jumlah lilitannya banyak dengan kawat berdiameter kecil sehingga tahanannya besar yang memungkinkan diparalel terhadap tegangan terminal.
b. Kumparan Seri
Jumlah lilitannya sedikit dengan diameter kawat yang besar sehingga mampu dilalui arus yang besar sementara tahanannya kecil sehingga rugi tegangannya kecil.
c. Kumparan Komutasi/Antara
Disambung secara seri dengan kumparan utama sehingga arus yang mengalir cukup besar.
Penampang kawatnya besar dan hanya terdiri dari beberapa lilitan saja.
d. Kumparan Kompensasi
Dipasang pada sepatu kutub, hanya pada mesin berkapasitas besar untuk mengantisipasi distorsi medan utama dan penyebaran fluks yang merata selama terbebani.
5. Perumahan (Penutup Mesin)
Menurut bentuk rumah mesinnya dapat dibedakan : mesin terbuka, setengah terbuka, tahan percikan air, tertutup dengan pendinginan zat cair atau gas.
6. Celah Udara (Air Gap)
Sebagai media medan magnet atau fluks
7. Sikat Arang (Carbon Brush)
Untuk mengalirkan arus dari rotor ke terminal dan sebaliknya.
8. Bearing / Bantalan
Tempat bertumpunya rotor sehingga rotor dapat berputar. Terpasang di kedua ujung rotor dikenal dengan sisi AS (After Shaft) dan BS (Before Shaft).
9. Fan (Kipas)
Terpasang pada motor-motor dengan sistim pendinginan sendiri, untuk motor dengan kapasitas kecil hingga sedang.
10. Terminal Box
Tempat tersambungnya antara kumparan-kumparan mesin DC dengan jala-jala atau sumber tegangan.

B. Rotor (bagian yang berputar)
1. Inti Jangkar dan Poros Jangkar
Terdiri dari laminasi besi dengan permeabilitas tinggi, terdapat slot/alur untuk kumparan, berlubang untuk udara pendingin.
2. Kumparan Jangkar
Terbuat dari kawat konduktor , tipe kumparan dengan kepala tertentu.
3. Komutator
Untuk merubah arus bolak-balik pada kumparan jangkar menjadi arus searah pada terminal. Terbuat dari laminasi tembaga.





Read More..

Mesin DC

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Klasifikasi Mesin-mesin DC
Secara umum mesin listrik terbagi menjadi 2 yaitu :
a.Mesin listrik arus searah
b.Mesin listrik arus bolak-balik

a.Mesin listrik arus searah terbagi menjadi 2 yaitu:
1) Generator arus searah (DC) adalah suatu mesin yang merubah energi mekanis menjadi energi listrik arus searah.
2) Motor arus searah (DC) adalah suatu mesin yang merubah energi listrik arus searah menjadi energi mekanis.

Generator DC diklasifikasikan menjadi :
- Gen.Penguat Terpisah/asing (Separately Exiter)
- Gen.Penguat Sendiri :
- Gen.Seri
- Gen.Shunt
- Gen.Compound Pendek
- Gen.Compound Panjang
Motor DC diklasifikasikan menjadi :
- Motor Penguat Terpisah/asing (Separately Exiter)
- Motor Penguat Sendiri (Self Exiter):
- Motor Seri
- Motor Shunt
- Motor Compound Pendek
- Motor Compound Panjang

Read More..